Pengalaman Tak Terlupakan Seorang Supir Taksi

Di masa muda, Bill yang ingin punya bos, bekerja sebagai supir taksi dan memilih shift malam. Tanpa disadarinya, ia juga menjadi tempat berkeluh kesah para penumpang yang dibawanya. Sering kali, begitu naik ke taksi, duduk di belakang, tanpa dikenali identitasnya, para penumpang bercerita tentang kehidupan mereka. Banyak kisah yang menyenangkan, yang membuatnya tertawa. Tapi banyak juga kisah sedih, yang membuatnya meneteskan air mata.

Suatu malam, Bill menerima panggilan untuk menjemput penumpang di sebuah rumah di kota yang tenang. Ia menduga akan menjemput undangan pesta yang akan pulang, atau seseorang yang bertengkar dengan pasangannya. Atau seorang pekerja shift dini hari di pabrik.

Bill tiba di sebuah rumah kecil di alamat yang disebutkan pada pukul 02.30 dini hari. Rumah dua tingkat tersebut gelap. Tampak hanya satu lampu yang menyala di lantai bawah. Dengan situasi seperti itu, kebanyakan supir taksi akan menekan klakson satu atau dua kali. Tunggu 1 menit, lalu pergi. Tapi Bill lain. Sudah teramat sering ia melihat orang miskin yang tergantung pada taksi sebagai sarana transportasi.

Seperti biasa, Bill mempelajari situasi di sekelilingnya. Jika terasa aman, ia selalu datang ke pintu rumah. Penumpang ini mungkin seseorang yang perlu bantuannya, begitu pikirnya. Bill lalu berjalan ke pintu dan mengetuknya.

“Tunggu sebentar,” terdengan jawaban seorang nenek dengan suara lemah.

Bill mendengan sesuatu diseret. Sesudah agak lama, pintu dibuka. Seorang perempuan kecl berusia 80-an berdiri di depan Bill. IIa mengenakan rok kembang – kembang kecil, mengenakan topi dengan penutup di depannya, seperti perempuan tua dalam film tahun 40-an. Di sampingnya terletak sebuah kopor kecil. Rumah kecil itu tampak seakan lama tidak berpenghuni. Semua perabot ditutupi kain. Tak ada jam di dinding, tak ada peralatan di lemari dan rak. Di sudut ruang terdapat sebuah lemari kayu dengan pintu kaca berisi foto dan piring gelas.

“Bisa tolong bawa koper saya ke taksi ?” katanya.

Bill membawa koper ke taksi dan kembali untuk membantu nenek tersebut. Ia menggandeng lengan Bill dan berjalan pelan di sampingnya menuju taksi sambil terus berterimakasih kepada Bill.

“Terima kasih kembali,” kata Bill. “Saya cuma mencoba membantu penumpang saya seperti saya memperlakukan ibu saya,” tambahnya.

“Oh, Anda anak baik,” katanya.

Sesudah duduk di dalam taksi, perempuan itu memberikan secarik keertas bertuliskan alamat, lalu bertanya,

“Apakah kita bisa lewat kota ?”

“Itu bukan jalan terpendek,” sahut Bill cepat.

“Tak apa. Saya tidak peduli. Saya tidak terburu – buru. Saya sedang menuju panti jompo,”  katanya.

Bill memandangnya dari kaca spion. Mata nenek itu tampak bersinar.

“Saya tak punya keluarga, tak punya siapa pun lagi. Kata dokter waktu saya tak lama lagi.”

Mendengar itu, perlahan Bill mematikan meteran argo.

“Ibu ingin melewati jalan apa ? ” tanyanya.

Dalam 2 jam berikutnya, taksi meluncur keliling kota. Nenek itu menunjukkan bangunan tempat dia bekerja sebagai operator lift. Lalu meluncur ke wilayah tempat dia dan suaminya tinggal ketika baru menikah. Ia lalu menyuruh Bill meluncurkan taksi ke depan sebuah gudan perabot. Di zaman dulu, tempat itu adalah ballroom tempatnya belajar dansa ketika remaja. Kadang, nenek itu menyuruh Bill memperlambat laju kendaraan di depan bangunan tertentu atau di sudut jalan tertentu, sambil dia memandang ke dalam kegelapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Saat cahaya sang surya mulai tampak di ufuk langit, nenek itu tiba – tiba berkata,

“Saya lelah. Mari kita pergi sekarang.”

Bill meluncurkan taksi ke alamat yang diberikan dalam keheningan dan tiba di sebuah rumah petirahan. Taksi lalu meluncur ke pekarangan. Dua perawat segera keluar dan mendekati taksi. Keduanya tampak khawatir dan tegang, dan memperhatikan setiap gerak geriknya. Bill menduga kedua perawat tersebut pasti sudah menunggunya.

Bill membuka bagasi dan membawa koper kecil itu ke depan pintu bangunan. Nenek itu sudah duduk di kursi roda.

“Saya harus bayar berapa ?” tanyanya sambil mengambil dompetnya.

“Tak usah bayar,” kata Bill.

“Ini mata pencaharian Anda,” katanya.

“Saya bisa dapat dari penumpang lain,” sahut Bill.

Bill lalu membungkuk dan memeluknya. Nenek itu memeluknya kuat.

“Anda sudah memberi seorang nenek tua kebahagiaan singkat yang terakhir,” katanya. “Terimakasih.”

Bill menekan tangannya, lalu berjalan dalam cahaya pagi yang suram. Ia mendengar bunyi pintu ditutup. Bagi Bill, itu adalah bunyi penutupan hidup.

Sesudah itu, Bill tidak menerima penumpang lainnya. Ia meluncurkan taksi tanpa tujuan, sambil terus membayangkan nenek tersebut. Sepanjang hari itu, Bill tak banyak bicara. Bagaimana jika nenek itu dpaat supir taksi yang pemarah ? Atau supir yang ingin cepat – cepat pulang karena shift-nya berakhir ? Atau supir taksi yang hanya klakson sekali, lalu pergi ?

Hari itu, dalam renungan singkatnya, Bill merasa belum pernah melakukan apa pun yang sepenting itu selama hidupnya.

Sering kali kita merasa, hidup kita harus berputar di sekitar hal – hal hebat. Padahal sering kali kita tidak menyadari hal – hal hebat, yang terbungkus secara indah dalam kemasan yang dianggap remen oleh orang – orang lain.

Perbuatan – perbuatan kecil yang kita lakukan, kadang tanpa kita sadari, punya makna besar dan berarti bagi seseorang. Orang – orang sering kali tak ingat apa persisnya yang kita lakukan, tapi akan selalu ingat perasaan yang kita bangkitkan dalam hati mereka.

One response to this post.

  1. Pengalaman yang pasti tak akan kita lupakan, tulisan anda mengigatkan sekelumit kehidupan saya yang telah terlewatkan, saya jadi ingat untuk lebih menghargai waktu dan kesempatan, makasih banyak sobat.
    @ pengantin adat

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: